Sunday, April 12, 2015

Makam Bernisan Tua



Hatiku berdebar. Tak biasanya aku merasa seperti ini. Bulu romaku tegak berdiri, seakan hembusan angin dingin menelikung tepat di belakang leherku. Tiap kali aku melewati pemakaman yang berada persis di depan rumahku, aku tak pernah dihinggapi rasa seperti ini, apalagi rasa takut. Lazimnya yang lain, pemakaman yang seolah sudah menjadi pemandangan wajib bagiku ini, ditumbuhi beberapa pohon bunga kamboja yang tinggi dan rindang. Auranya pun sama seperti pemakaman lain, sepi dan gelap.
Kakiku kuayunkan lebih cepat. Aku melirik jam di pergelangan tangan kiriku. Jarum pendeknya sudah hampir menunjuk angka tujuh. Sinar matahari sudah lenyap, diganti dengan temaramnya sinar bulan. Aku baru saja berbelok ke halaman rumah ketika kudapati ibuku tengah duduk di kursi rotan yang ada di sudut teras. Ibu terdiam tak bicara, hanya raut wajahnya tertimpa berkas cahaya bolam lampu. Menyiratkan kerutan-kerutan di wajahnya dan rambut yang semburat berwarna putih.

“Assalamua’alaikum Bu. Kok melamun?”
“Wa’alaikumsalam. Eh kamu sudah pulang Nduk.” Ibu seakan terperanjat dari lamunannya ketika menyadari kedatanganku.
“Sana cepat mandi, keburu malam. Kalau mau makan lauknya ada di lemari.”

Ibu lantas berbalik masuk ke dalam rumah, berbelok ke kamar dan kemudian menutupnya. Seakan ingin menghindar dariku. Aku yang baru saja akan berbincang dengannya, hanya bisa termangu. Aku lantas menutup pintu dan jendela nako lalu menarik gorden biru yang sejak dulu menggantung di situ. Entah kenapa aku ingin sekali mengintip makam yang nisannya sudah usang, hampir tak berbentuk, lapuk. Tepat di seberang rumah, satu-satunya makam yang jelas terlihat dari sini. Mungkin sudah lama tak diziarahi keluarganya.
* * *
Seberkas sinar matahari menerobos lewat celah kaca jendela kamarku yang tak tertutupi gorden, menimpa tepat di atas mataku. Mataku menyipit, kupaksa untuk terbuka kendati rasa kantuk masih menggelayut. Aku melangkah keluar kamar, menuju kamar mandi. Segera saja kuguyur sekujur badanku dengan air. Pagi ini aku harus berangkat lebih pagi. ada banyak pekerjaan yang masih belum kuselesaikan kemarin. Tak butuh waktu lama bagiku untuk merapikan diri, karena aku memang bukan tipe perempuan yang suka berhias.

“Kemarin kenapa pulang malam May?” ibu mengawali pembicaraan sembari menuangkan teh ke dalam dua gelas di atas meja makan.
“Kemarin ada banyak kerjaan Bu. Kebetulan orang-orang kantor banyak yang lembur jadi Maya tidak bisa pulang cepat,” jawabku sambil menarik kursi.
 “Kemarin sebelum maghrib ibu lihat ada anak kecil di kuburan depan rumah, duduk di dekat nisan yang tidak terurus itu lho May. Tapi sepertinya ibu belum pernah melihat anak kecil itu. Sudah dua hari ini dia datang terus tiap sore. Anak itu duduk di situ lama sekali. Enggak tahu kenapa, Ibu cuma teringat almarhum bapakmu saja. Sepertinya sudah lama kita tidak ziarah May,” cerita ibu panjang lebar.
“Oh. Ya nanti deh Bu kalau Maya tidak banyak kerjaan, pas libur kita ke Solo,” jawabku sambil mengunyah nasi goreng sembari mengaduk-aduk teh manis yang sebagian butir gulanya masih tertinggal di dasar gelas.
***
Semua yang kualami hari ini di kantor telah membuatku jengah. Aku bosan dengan nasibku. Menjadi babu bagi orang lain. Seandainya aku bisa mengubah kenyataan, aku sungguh tak ingin menjadi seorang office girl. Disuruh kesana-kesini, ini itu, apa pun harus aku lakukan tanpa bisa kubantah. Belum lagi rekan kerja yang tidak koordinatif, maunya enak sendiri. Aku ini memang masih ingusan, tapi bukan berarti aku bisa ditekan dan dihimpit seenaknya. Rasanya kebosananku sudah memuncak.

Jam sudah menunjuk pukul lima. Aku segera beringsut memberesi semua barangku. Yang terlintas di benakku saat ini hanyalah ingin segera tiba di rumah, ingin segera mengguyur badan dan kepalaku yang terasa memanas. Ketika turun dari angkot di ujung gang, seorang anak kecil perempuan berjalan terhuyung di depanku. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat pasi. Kaki-kakinya kecil tak berdaging. Aku yang berada lima meter di belakangnya, hanya terheran penasaran. Setahuku, aku belum pernah melihat anak itu. Ia lalu berbelok ke area pemakaman. Langkahku terhenti. Di senja seperti ini, seorang gadis kecil mendatangi pemakaman? Pertanyaan itu berkecamuk di kepalaku. Ketika aku sampai di teras, aku tak segera masuk ke rumah. Dengan seksama aku melihat anak kecil itu. Rupanya ia tengah duduk berlutut di dekat makam bernisan usang. Mataku memandanginya lekat. Kulihat ia tersengal-sengal, sepertinya sedang menangis.

Sejak saat itu setiap senja anak kecil itu tak pernah absen datang ke pemakaman. Dan hingga sekarang pun aku tak pernah tahu siapa dan mengapa gadis kecil itu sering berada di sana, di dekat makam yang selama ini tak bertuan. Setidaknya selama dua minggu ini, aku selalu berpapasan dengannya ketika pulang kerja. Dan baju yang dikenakannya pun sepertinya tak pernah ganti. Celana pendek hijau yang lusuh dan kaos biru yang sobek di bahu kiri. Serta sandal jepit yang berbeda warna.
***
Aura wajahku muram. Di kantor aku mengalami kejadian buruk. Kali ini aku dimaki-maki atasanku karena menghidangkan kopi yang terlalu pahit. Bukannya aku tak mensyukuri nikmat Tuhan, tapi kalau hari-hariku seperti ini, bagian mana yang harus aku syukuri? Gajiku pun tak seberapa. Hidup ini terlalu pahit bagiku.

Sore ini aku pulang dengan wajah kuyu. Seperti biasa, setelah turun dari angkot, aku menyambung perjalanan pulang dengan berjalan kaki. Tidak dekat memang, tapi daripada aku harus mengeluarkan uang lagi lebih baik aku sedikit berlelah-lelah. Ketika aku berbelok di ujung gang, aku terkejut ada kerumunan orang berpakaian hitam di pemakaman depan rumahku. Tidak begitu banyak orang memang, tapi setahuku pemakaman itu sudah penuh. Tak mungkin lagi muat menampung jasad. Mungkin Cuma cukup untuk satu makam lagi.
Aku berjalan pelan. Kepalaku diliputi penasaran. Siapa yang meninggal dan dimakamkan di situ. Sekarang pun sudah senja, kenapa tidak dimakamkan besok saja pikirku. Aku menghampiri seorang ibu yang berpakaian hitam dan berkerudung bordir yang tengah berbincang dengan seorang bapak yang juga berpakaian serba hitam.

“Maaf Bu. Kalau boleh tahu, siapa yang meninggal?” tanyaku.
“Oh. Yang meninggal Alia Mbak. Anak jalanan yang tinggal di dekat rumah saya,” jawab ibu berperawakan gemuk itu.
“Alia? Gadis kecil yang kurus itu ya Bu? Beberapa minggu ini saya sering melihat dia menangis di kuburan ini. Sakit apa dia Bu?” aku bertanya setengah terkejut dan terkenang gadis kecil lusuh itu.
“Dia kena leukimia mbak. Sejak balita sudah terdeteksi. Kasihan sekali anak itu. Sejak lahir tak mengenal orang tuanya. Dia besar di jalanan,” roman muka ibu itu berubah. Sudut matanya berkaca-kaca.
“Maaf Bu. Tapi kenapa dia sering sekali terlihat menangisi kuburan dengan batu nisan yang usang itu ya? Apa Ibu tahu itu siapa?” tanyaku penuh selidik.
“Itu makam ibunya Mbak. Dia juga baru tahu kalau ibunya dimakamkan di sini. Kebetulan bulan lalu Dia bertemu sesorang yang mengaku sebagai saudara ibunya. Sejak saat itu setiap sore dia ke sini mbak, pagi sampai siang dia mengamen di terminal,” terangnya diiringi bulir air mata yang mulai jatuh di pipi.

Aku tertegun. Kasihan. Di pemakaman ini terbaring seorang miskin yang tak punya sanak keluarga. Tak heran bila makam itu tak terurus. Aku mendekat ke makam Alia. Masih basah, dengan taburan kelopak bunga mawar di atasnya. Aku berjongkok. Nisannya tertulis “ALIA lahir: 2000 wafat: 23 Juli 2011”. Tak tertulis tanggal lahir, hanya tahun lahirnya. Aku melihat ke makam bernisan tua dan usang di sebelahnya. Nisan kayu yang sudah lapuk tak berbentuk. Rumput liar tumbuh lebat di sekitarnya. Aku menghela nafas, betapa singkat hidup anak ini. Jika saja kemarin aku bisa mengenalnya, mungkin aku bisa menjadi temannya. Tapi setidaknya kini gadis kecil itu sudah menemukan keluarganya, Ia terbaring tenang di dekat ibunya.

Setidaknya kini aku pun tahu apa yang harus aku syukuri dari hidupku. Aku mengenal kedua orang tuaku. Aku disayangi ibuku. Aku bisa makan kenyang setiap hari. Aku bisa tumbuh sehat dan tak memiliki penyakit apa pun. Dan aku masih bisa hidup sampai detik ini.

Saturday, April 11, 2015

Perpisahan Tom DeLonge dengan Blink 182 Jilid Kedua

Tom dicoret dari Blink 182
Sorry guys, meskipun agak telat, gue rasa gue tetep harus ngepost artikel yang khusus gue dedikasiin buat band idola sepanjang masa gue, Blink 182. Yup, seperti yang udah kita tahu guys, akhir januari kemarin, sejarah pahit perpecahan blink 182 di tahun 2004, kembali terjadi. Pasalnya, band yang berdiri sejak tahun 1992 itu lagi-lagi harus kembali terpecah setelah Mark Hoppus (bass+vocal) dan Travis Barker (drum) kembali berselisih paham dengan sahabat mereka sendiri Tom Delonge (guitar+vocal) akibat ulah Tom yang menolak buat masuk ke studio rekaman.

“Beberapa bulan yang lalu, Travis berencana buat festival musik (Musink Fest) & ngajak blink 182 buat ikutan. Jawabannya tentu aja iya. Nah, saat menjelang akhir tahun 2014, kami (blink 182) juga udah berhasil tanda tangan kontrak kerjasama dengan sebuah label. Meskipun saat itu semua komunikasinya hanya berjalan via email & gak satupun dari kami yang ngobrol bareng Tom, semuanya berjalan begitu positif,” ujar Mark Hoppus seperti yang gue kutip dari situs Rolling Stones, Selasa (27 Januari 2015).

Mark Hoppus, sahabat dekat Tom Delonge
Puncaknya terjadi di hari itu tanggal 30 Desember 2014, kita dapetin email dari manajer Tom yang isinya mengatakan kalo Tom udah gak punya ketertarikan buat bikin album musik & lebih milih fokus pada hal-hal di luar musik. Setelah banyak email yang dikirimkan, manajernya Tom pun ngirimin email lagi yang isi tulisannya sama kaya’ kejadian 2004 silam, “Tom udah out (keluar)”,” imbuh Mark.

Maka gak heran, sejak perseteruan itu mencuat ke publik, Tom dan dua personil Blink 182 lainnya (Mark & Travis) kerap adu statement di media. Dilansir dari NME, Rabu (4/3), menanggapi hal tersebut, Tom sempet curhat isi hatinya secara panjang lebar lewat akun Facebooknya, belum lama ini.

Surat Terbuka dari Tom (Perpisahan untuk Fans)

Selasa (27 Januari 2015) Tom mengunggah surat terbuka buat para fans lewat akun Facebook pribadinya. Di sana, ia curhat segalanya tentang Blink 182. Tom bercerita soal alasan versinya kenapa dia milih “cabut” dari band yang selama ini ia cintai.

Mengutip Stereogum, surat terbuka yang seperti ucapan perpisahan itu dipenuhi dengan rasa kesedihan yang amat mendalam. Sebab Tom selama ini merasa upayanya bertahan di Blink-182 udah "mentok." Ia merasakan pertemuan dan hubungan “awkward” dengan kedua partnernya (Mark & Travis). Pada akhirnya, itulah yang membuat Tom sedih.

Tom jujur banget di awal suratnya. Karna disitu Tom nulis, kejujuran akan selalu dapet tempat yang baik. Ia juga ngaku kalo ia cinta & sayang banget sama Blink 182. Baginya, Blink 182 merupakan anugerah terindah yang pernah kumiliki (kok jadi Sheila on 7??).  
 
Tom Delonge, "nyawa" dari Blink 182
“Blink udah ngasih gue segalanya. SEGALANYA. Gue memulai band ini di garasi rumah gue, ketika gue cuman bisa mimpi tentang semua kenakalan ini.”

Rasa cinta yang dalem itulah yang bikin Tom selama ini selalu “berjuang keras” untuk Blink 182. Tom selalu nyoba meretas banyak jalan sukses buat Blink 182. Ia slalu munculin banyak ide-ide kreatif yang bisa ngembangin band-nya. Tom slalu nantangin diri sendiri & dua orang kawannya (Mark & Travis) untuk bisa jadi band yang lebih baik lagi.

“Gue gak cuman duduk & nungguin seseorang nglakuin hal itu. Gue bukan orang seperti itu,” lanjut Tom dalam tulisannya.

Puncak kesalahpahaman itu terjadi saat Tom ngumpulin semua member band di Utah. Niat awalnya adalah untuk saling sharing & ngluarin semua unek-unek. Tapi sayangnya, hasil dari meeeting itu ternyata amat sangat mengecewakan.

“Apa yang gue harapin bakalan jadi sebuah meeting yang positif untuk bersama, justru malah jadi awkward meeting,” tulis Tom lagi. Tapi Tom gak jelasin apa yang sebenernya dianggep “masalah” itu.

Yang jelas, saat itulah Tom ngomong, “Selama kita masih bicara (saling tegur sapa), dan hubungan pertemanan kita berjalan dengan baik, gue bakalan kerja dengan penuh totalitas. Gue selalu bercermin dari hubungan personal kita. “Kemudian saat itu,  kita harus mengggarap rekaman lagu untuk EP (Dogs Eating Dogs). Sebenarnya itu adalah ujian buat mereka (Mark & Travis).”

Album EP Dogs Eating Dogs
Selama proses pengerjaan album EP (Dogs Eating Dogs), Tom selalu “rajin” nongkrong di dalem studio selama 2 bulan, tapi kedua rekannya malah cuman dateng sekitar 11 hari aja. Disitulah kadang Tom merasa sedih. Tom merasa kalo dirinya diperlakukan gak adil. “Gue sih gak masalah kalo disuruh megang kendali. Tapi bukannya sedari awal kami semua sepakat buat ngasihin 100 persen buat band ini?,” ungkapnya lagi.

Lalu pada akhirnya Tom pun ngrasain sebuah momentum, saat itu semangatnya bener-bener udah luntur. Saat ia beranggepan kalo band-nya itu sebenernya udah gak bisa lagi bertahan. Saat itu juga ia udah gak bisa lagi percaya pada omongan siapapun. Udah selama bertahun-tahun, akhirnya Tom ngrasain itu semua. Saat itulah Tom berusaha jujur kepada rekannya, ia cuman pengen konfirmasi komitmen dari kedua sohibnya, tapi Tom malah didiemin gitu aja. Akhirnya Tom pun milih buat “pergi”.

Itu merupakan puncak dedikasinya buat Blink 182. Apalagi saat Tom harus dengerin kenyataan pahit dari statement kedua sohibnya (Mark & Travis), yang ngomong ke publik kalo Blink 182 bisa tetep jalan meski tanpa Tom. Ia merasa dicederai. Gak ada jalan lain selain cabut dari band yang membesarkan namanya itu.

“Dan pada akhirnya, gue prihatin atas semua yang terjadi. Gue sedih, sedih buat kami, sedih buat kalian (fans) yang udah liat gimana ketidakdewasaan ini terjadi,” ujar Tom. Lalu ia juga nambahin, “Meskipun gue, ngliat perlakuan mereka berdua ke gue udah beda, tapi gue masih tetep peduli sama mereka. Udah kaya’ saudara, kawan lama. Tapi sayang, hubungan kami udah teracuni kemarin.”

 Tapi, sekarang giliran sang drummer, Travis yang angkat bicara mengenai hal ini.
“Gue rasa ini udah kali ketiga dia (Tom) “berhenti” dari band, selama ini gue berusaha nutupin itu semua dari fans. Biarlah ini jadi yang terakhir. Karna bener-bener gak baik untuk fans kami. Dia (Tom) selalu setuju bila diajak tur & recording, tapi saat harus masuk studio rekaman, dia selalu aja banyak alesan,” ujar Travis

“Sekarang gue rasa, udah saatnya gak maksain seseorang buat nglakuin hal yang gak ia suka, dan udah waktunya buat move on.”tambahnya.

Gak cuman itu guys, Travis juga ngomong, kalo sebenernya Tom itu udah gak suka alias gak enjoy lagi dengan aliran musik yang dimainkannya di blink 182. Ini merupakan sebuah fase hidup baginya.
“Gue selalu enjoy mainin, dengerin, segala sesuatu tentang punk rock. Tapi gue rasa bagi Tom, dia udah gak suka lagi sama musik punk & itu hanya jadi fase baginya,” sang drummer mengakhiri.

Blink 182 with Matt Skiba
 Bahkan sampai saat ini, aroma “persaingan” itu makin memanas aja. Jika Blink 182 tetep berusaha ngeksis dengan mencatut nama Matt Skiba (gitaris Alkaline Trio) buat “gantiin” sementara posisi Tom di Blink 182, Tom yang juga baru aja ngrilis album kelima dari side projectnya Angels and Airwaves berjudul The Dream Walker, ini pun balik “Nampar” kedua rekannya di Blink 182 lewat sebuah album solo perdananya, yang bertajuk “To The Stars (Demos, Odds, and Ends)” yang berisikan lagu-lagu “ciptaannya” untuk Blink 182.

Album solo perdana Tom DeLonge
 “Buat para fans, gue sebenernya gak pernah keluar dari band (Blink 182). Bahkan gue saat itu lagi nelfon seseorang buat bicarain next plan dari Blink 182 di New York ketika semua kabar ini datang. Ternyata, semua kabar tersebut datang dari “band”. Kami gila? Ya. Tapi, Oh my God,” ujar Tom di akun Facebooknya.

“Gue punya banyak karya musik yang lagi gue garap dengan serius. Tapi sayangnya sesuatu itu terjadi, jadi gue rasa gue harus ubah planning. Gimanapun juga, gue pikir kalian tetep berhak buat dengerin lagu-lagu terbaru gue itu,” tegas Tom.

Tapi yang menarik dari semua kemelut konflik yang terjadi dalam tubuh Blink 182, meskipun terkesan saling “membalas”, Tom brani mastiin kalo dia gak pernah dendam atas perlakuan Mark kepadanya. Tom bahkan brani ngomong kalo Mark Hoppus bakalan slalu jadi sahabat baiknya.



“Gue gak akan pernah benci sama Mark, dia udah jadi sahabat deket gue selama bertahun-tahun. Gue harap dia bisa bahagia kedepannya,” tulis Tom.

Itulah sekelumit cerita dibalik "perceraian" jilid kedua antara Blink 182 dengan Tom Delonge. Sebenarnya sih gue sangat kecewa dengan keputusan yang mereka buat. Karna sebagai die hard fans, gue merasa hambar gitu aja kalo harus ngliat Blink 182 tanpa Tom begitu juga sebaliknya. Tapi apapun itu, sebagai fans gue juga harus hormati keputusan mereka. Yang jelas gue akan selalu setia menunggu karya-karya terbaru dari mereka.

written by : danzvantyo
*diolah dari berbagai sumber



Monday, April 6, 2015

Review film : Fast & Furious 7, sebuah film untuk mendiang Paul Walker


source: (http://blogs-images.forbes.com/markhughes/files/2015/04/Furious-7.jpg)
Kemaren, gue udah nonton sekuel ke tujuh dari film Fast & Furious, Furious 7 (the last ride). Seperti yang udah gue prediksi, gedung XXI yang biasanya gak pernah crowded, kemaren crowded banget dengan calon penonton, bahkan antrian tiket pun mengular panjang hingga beberapa meter. Padahal saat itu jam menunjukkan pukul 12 siang. Tapi wajar sih, karena memang film Furious 7 ini dinantikan kehadirannya, setelah molor 2 tahun dari jadwal seharusnya, sepeninggal Paul Walker yang meninggal tragis dalam kecelakaan tunggal dengan mobil sport nya. Jadi selain film ini memang dinantikan kelanjutan ceritanya, para penonton pun penasaran dengan gimana kelanjutan peran Brian (Paul Walker) yang dalam proses syutingnya digantikan oleh kedua adiknya & dibantu dengan teknologi CGI.


source: http://www.ceylontheatres.com
Film furious 7 ini bertemakan "balas dendam". Ya, masih ingat dengan tokoh antagonis sentral di Fast 6? Dialah Owen Shaw, sang bos penjahat yang punya banyak anak buah, salah satunya diperankan oleh aktor kebanggaan Indonesia, Joe Taslim. Dominic Toreto (Vin Diesel) cs berhasil melumpuhkan Owen Shaw hingga sang penjahat koma di Rumah Sakit. Sang kakak, Deckard Shaw (Jason Statham) tak terima melihat kondisi adiknya yang tergeletak tak berdaya di Rumah Sakit. Deckard Shaw pun bersumpah untuk menuntut balas atas apa yang diperbuat Dom cs terhadap adik tersayang.

Korban pertama Deckard Shaw adalah Luke Hobbs (Dwayne Johnson). Karena ialah yang memberikan mandat kepada Dom cs untuk memburu Owen Shaw. Setelah battle fighting one on one dengan Hobbs di kantor DSS, Deckard berhasil mengunduh berkas file tentang siapa saja yang membuat adiknya menderita. Tentu saja, Dom cs menjadi target utama dari Deckard Shaw. Korban berikutnya adalah Han (Sun Kang), menariknya, penonton disuguhi adegan flashback saat Han mengalami kecelakaan di salah satu adegan kejar-kejaran di film Tokyo Drift. Kita dibuat tak menyangka, ternyata Deckard Shaw lah yang membunuh Han. Skenario yang amat sangat visioner menurut gue. Kenapa? karena film Tokyo Drift dibuat jauh sebelum Furious 7 ini dibuat. Adegan Han dibunuh Deckard Shaw itu terlihat sangat "pas" tidak dipaksakan & tidak juga dibuat-buat. Dan ternyata, film ini juga menjawab rasa penasaran gue atas kemunculan tiba-tiba Dom di adegan terakhir film Tokyo Drift.

Nilai plus lainnya dari film ini adalah tidak pernah menghapuskan peran Brian (Paul Walker) meskipun seperti yang kita ketahui, Paul Walker udah meninggal dunia dalam sebuahkecelakaan tunggal mobil sport nya beberapa tahun yang lalu. Peran Brian dalam film ini dikisahkan sedang "galau", merasa gak nyaman dengan kehidupan normal, yang jauh dari bisingnya peluru. Dan benar saja, Brian harus kembali terlibat dalam sebuah misi memburu Deckard Shaw.

Namun bukan perkara mudah untuk menaklukkan Deckard Shaw, karna Dom cs hrs menerima misi dari seorang senior Intelejen USA Frank Petty (Kurt Russell), untuk menyelamatkan seorang hacker cewek yang berhasil menemukan teknologi "God's eye" device. Sebuah teknologi baru yang memungkinkan untuk membantu memata-matai siapapun target utama intelijen dunia ini, karena dengan God's Eye, bisa melihat siapapun target kita asalkan disekitarnya ada camera / smartphone atau apapun itu asalkan bisa mengeluarkan pencitraan audio visual. Ya, Dom cs hrs bisa nemuin cewek itu (Ramsey) & sebagai imbalannya, Dom cs bisa nemuin keberadaan Deckard Shaw dengan bantuan alat God's Eye.

source: http://images.cardekho.com/images/carNewsimages/carnews/Automobiles/Furious_7screen_02.jpg
 
source: http://www.trbimg.com
 Film Furious 7 ini kembali menyuguhkan adegan kejar-kejaran mobil-mobil sport yang tentu aja bikin kita ngiler untuk bisa milikinnya. Hehe. Bahkan di salah satu adegan, sebuah mobil sport langka berharga 3 juta dollar milik pangeran Jordania harus hancur berkeping-keping begitu saja. Adegan-adegan action pake mobil ini gak melulu bersetting di jalanan. Bahkan film Furious 7 melabrak pakem karna menghadirkan mobil beterbangan di angkasa, yang tentu saja bikin penonton terhibur karena semua adegan khayal itu terasa begitu "real" walaupun di dunia nyata sangatlah gak mungkin terjadi. Selain action, film ini juga dibumbui romance dari hubungan asmara dari Dom & Letty yang begitu "sweet" karna pada akhirnya Letty (Michelle Rodriguez) mendapatkan kembali seluruh ingatannya yang sempat hilang beberapa tahun terakhir. 

source:  http://media.comicbook.com
Overall, gue berikan nilai A+ untuk film ini, karena durasinya yg begitu panjang (kurang lebih 2,5 jam), tapi tidaklah membuat penonton bosen nyimak cerita film ini dari awal hingga akhir. Film ini juga memberikan sebuah pesan yang amat bermakna, bahwa "Keluarga" adalah di atas segalanya. Penonton dibuat terharu dengan cuplikan adegan Paul Walker dalam film-film Fast Furious 1 hingga 7. (For Pau)l. Itulah tulisan di ending film ini. Yang membuat film ini terasa begitu spesial, karna benar-benar mendedikasikan film ini untuk mendiang almarhum Paul Walker. Sebuah perpisahan manis, ketika Dom & Brian mengendarai dua mobil yang berbeda, berjalan beriringan, kemudian berpisah di ujung jalan menuju kedua arah yang berbeda. Epic.

Cinta & Asa (Sebuah Puisi)



Malam
Begitu sepi
Meniadakan keceriaan hati
Terlalu hina memang
Aku ini
Bahkan tanpa perlu dihina sekalipun
Sudah jelas
Tak kunjung kutemukan arah itu
Sementara yang lain? sudah
Bahkan mereka hampir selesai!
Namun aku bahkan belum memulainya
Kuhujat diriku sendiri
Dasar kau pecundang!!!
Namun aku tak punya nyali membalasnya
Kegelisahan ini mungkin masih akan terus mengikuti
Jam dinding terus berdetak
Detik, menit, jam, pagi, siang, sore, malam
Bulan ke matahari
Waktu takkan pernah bisa mundur
Usia makin menua
Apakah aku bisa?
Entahlah
Mungkin Tuhan masih marah padaku
Atas dosaku di masa lalu
Aku sudah berusaha
Semampu yang aku mampu
Tapi aku tahu diri
Tak mampu mengingkari hati nurani
Apakah ini terlalu terlambat?
Semoga waktu bisa menjawabnya
Untukmu yang saat ini mencintaiku
Maafkan ketidakbecusan ini
Mungkin engkau mencintai orang yang salah
Maksud hatiku melukis pelangi
Tapi mendung menutupi
Masihkah engkau sudi menunggu?
Menunggu mendung itu pergi
Menuju kecerahan hati
Sebagaimana maksud hatiku selama ini
Masa depan yang bukan hanya sekedar impian
Aku cuma punya sebuah harta berharga, yaitu cinta & asa
..............................................................................................

Ketika masa depan menjadi absurd

Ya, kalimat itulah yang pantas disematkan buat gue. Kenalin, nama gue Danz, umur 25tahun, dan masih belum bisa nentuin kemana arah hidup gue ke depan. Sebenarnya gue juga bingung sama diri gue sendiri, apa sih yang gue mau? apa gue terlalu idealis? ah gue rasa gak juga sih. Tapi yang jelas, di otak gue ini tertanam banyak sekali impian-impian yang indah, yang nampak mustahil banget untuk diwujudkan, but who knows?

Disaat temen-temen satu angkatan gue udah pada punya kerjaan yang lumayan mapan, tapi disaat yang sama pula gue masih blangsak hidupnya stagnan aja disatu titik yang menjemukan, sungguh batin ini tersiksa kawan. Apalagi ditambah fakta bahwa mayoritas temen-temen gue itu sekarang udah pada married dan punya anak-anak yang lucu. Tapi gue masih aja sok tegar, sok cuek kagak peduli, padahal di dalam hati menangis. Di umur yang seharusnya udah punya planning untuk masa depan, gue masih aja jadi individu yang kurang lebih sama dari tahun ke tahun.

Tetapi bukannya gue tanpa usaha, meskipun usaha gue sampai saat ini belumlah berhasil, tetapi setidaknya gue udah Do Something bukannya Do Nothing. Gue pernah ngalami fase hidup yang bisa diibaratkan seperti permen nano-nano (manis asem asin rame rasanya). Ini adalah true story gue, yang (mungkin) sebenernya gak penting-penting amat buat lo simak. Gue bukanlah pak Mario Teguh yang bisa memotivasi hidup lo, tapi gue pernah ngalami berbagai hal yang mungkin pernah lo alami juga. Gue cuma anak biasa, bukan anak singkong, bukan pula anak yang di masa kecilnya susah beli sepatu, tapi gedenya bisa jadi menteri. Yeah, I'm (not) a loser.

Mengkategorikan diri sendiri sebagai pecundang itu nyesek banget. Tapi mau gimana lagi? memang kenyataannya kaya' gitu?. Buat gue, kebahagiaan itu masih tabu. Sampai detik ini, saat gue nulis ini, gue masih berstatus sebagai lelaki pecundang. Gue udah merasa gagal sebagai cowok sejati. Memang tak ada gunanya juga menangisi nasib, tapi mungkin memang Tuhan belum ngasih jalan buat gue untuk bisa menjadi "Sukses". Maka dari itu, gue akan terus berusaha menggapai mimpi itu, gak peduli gimanapun caranya. Gue akan tetap bertahan dengan segala resiko yang akan gue hadapi, walaupun dengan probabilitas 0% sekalipun. Gue gak punya pilihan lain, selain mengikuti kata hati gue. Ya, kata hati, itulah yang akan slalu gue jadiin pegangan hidup gue untuk saat ini, esok, dan seterusnya.

Thursday, April 2, 2015

Restorasi Motivasi



Terduduk sendiri, berbayang imaji
Menjadi saksi kegagalanku ini
Kusudah tak tahu, kemana tujuanku
Terlalu tinggi ekspektasi padaku
Takdir memang fana, apakah kubisa?
Mendung itu tak kunjung beranjak pergi
Sampai detik ini kucoba berarti
Meski harapan masih enggan menghampiri
Mungkin sudah waktunya
Kepakkan sayap dan pergi
Kesempatan tak datang dua kali
Kuharus memberanikan diri
Aku kalah, tak mengapa
Kuyakin ini pendewasaan hidup
Aku rapuh, tetap tangguh
Kuakan tetap terus berjuang
......................................

Olga Syahputra, Dunia Komedi Indonesia Berduka.


(source: kapanlagi.com)

Dunia hiburan tanah air kembali kehilangan salah satu sosok artis multitalent nya, setelah kepergian almarhum Olga Syahputra. Jujur, gue adalah salah satu fans dari Olga. Bahkan sejak dia baru merintis karirnya di TV, lebih tepatnya saat dia jadi figuran saat segmen Diana Dalam Berita di acara Ceriwis Trans TV. Gue inget bener, saat itu gue masih kelas 1 SMA, sepulang sekolah gue selalu ditemenin Olga, makan siang gue kurang lengkap tanpanya. Kepolosan, kebodohannya saat membawakan segmen Diana Dalam Berita itulah yang sukses bikin gue ngakak sampe rahang gue sakit. 

Perlahan tapi pasti, Olga mulai menjajah semua stasiun tv. Tiap kali gue ganti channel tv, pasti slalu ada mukanya Olga. Wajar saja, dunia komedi di Indonesia memang kehilangan gregetnya selama ini. Jarang sekali ada seorang komedian yang bisa "jadi" bila dipasangkan dengan siapapun. Olga adalah buktinya. Dia slalu sukses diduetkan dengan komedian siapapun itu. Padahal sangatlah sulit buat bikin chemistry saat beradu canda dengan lawan main, terlebih lagi bukanlah teman satu grup. Olga bisa mematahkan teori itu. Dia adalah komedian "independen" artinya dia bukanlah dari sebuah grup, tapi selalu bisa langsung klik bila dipasangkan dengan siapapun. Komeng, adul, opie kumis, deny & wendi cagur, dan masih banyak komedian tanah air yang pernah merasakan duet ngelawak bareng Olga di berbagai acara komedi di tv nasional. Dan bisa ditebak, Olga menjadi salah satu artis papan atas Indonesia, stasiun tv nasional rela merogoh kocek yang dalam untuk mendapatkan tanda tangan Olga di sebuah program acara tv.

Lawakan Olga memang sangat "menusuk", tapi itulah dia, selalu eksis dengan gaya bicaranya yang nyablak ceplas ceplos plus gimmick kemayunya. Trademark itulah yang sukses mengantarkannya ke dalam prime time tv show. Banyak sekali acara yang sukses dengan rating tinggi berkat kehadiran Olga. Tapi bak pisau bermata dua, entah berapa kali juga Olga dapetin teguran dari KPI. Memang benar banyak orang yang terkadang sakit hati dengan lawakan Olga yang melabrak norma etis masyarakat Indonesia. Tapi harusnya masyarakat kita itu juga harus dewasa menyikapinya, bahwa semua itu terjadi di ranah dunia komedi, harusnya bisa memaklumi atas semua yang terjadi dalam sebuah show di tv. 

Sisi lain dari Olga yang gue kagumi adalah sifat kedermawanannya yang sangat tinggi. Wajar, seperti yang kita tahu, Olga berangkat dari background keluarga yang "kurang berada". Maka tak heran, saat dia mencapai puncak kesuksesan, Olga menjadi sangat loyal apalagi untuk mereka yang benar-benar membutuhkan. Namun sayang, gelimang harta itu menjadi hambar, ketika Olga divonis dokter menderita Meningitis, dan harus rela untuk dirawat intensif di Mounth Elizabet Hospital, Singapura. Kurang lebih setahun dia dirawat, sampai akhirnya dia harus meninggalkan kita semua untuk selamanya untuk menghadap sang khalik, Allah SWT. Selamat jalan Olga, makasih banget udah nemenin hari-hari gue dengan guyonanmu yang konyol itu, semoga kau tenang disana. Amin