Showing posts with label Social Critisms. Show all posts
Showing posts with label Social Critisms. Show all posts

Tuesday, May 24, 2016

#SEXEDUCATION + #SAVEOURKIDS


 
 Akhir-akhir ini begitu massive nya pemberitaan tindak kriminal pemerkosaan disertai dengan pembunuhan. Hal ini tentu membuat kita jengah. Apakah bangsa ini sudah "sesakit" itu?. Yang makin bikin kita prihatin adalah, banyak diantara para pelaku (tersangka) adalah para remaja abg yang masih dibawah umur dimata hukum. Umurnya sih masih anak-anak, tapi kelakuannya sama atau bahkan lebih bejat dari pria dewasa. Disini gue gak akan membahas tentang apa hukuman yang pantas diterima bagi para pemerkosa, melainkan gue akan membedah apa sih sebenarnya latar belakang para pemerkosa ini hingga sampai tega melakukan perbuatan keji itu. Karna gue percaya, mencegah lebih baik daripada mengobati. Walaupun para tersangka pelaku tindak pemerkosaan disertai pembunuhan terdiri dari banyak golongan umur, gue akan lebih fokusin tulisan gue ini pada REMAJA. Tentang apa yang terjadi di dalam dunia remaja gaul kekinian di era kemajuan zaman seperti sekarang. Mengapa gue concern pada remaja?karna menurut gue bangsa Indonesia ini gak akan hebat kalo moral & mental para pemuda pemudinya udah bobrok.

Age is just a number, ungkapan yang tepat, untuk menggambarkan kelakuan anak-anak baru gede (ABG) yang "katanya" masih dibawah umur ini tapi kelakuannya udah diluar batas norma kesopanan. Banyak orang jadi bertanya-tanya, kok bisa ya anak-anak muda di jaman sekarang ini bisa jadi sebejat itu kelakuannya?. Bukannya gue sok tau/sok bijak/sok menggurui, kalo boleh menyimpulkan, gue rasa penyebabnya cuma satu faktor : SEX EDUCATION yang keberadaannya masih amat tabu bagi mayoritas keluarga dengan kultur budaya Indonesia. 

 Di era kebebasan Internet seperti sekarang ini, gak munafik, kita dengan amat sangat gampang bisa ngakses konten pornografi bahkan dalam hitungan detik. FB, twitter, youtube, Path, Skype,dll, yang pada awal mulanya sebenarnya dibuat untuk mempermudah akses masyarakat memperoleh informasi & hiburan, ternyata banyak disalahgunakan banyak oknum yang gak bertanggung jawab untuk menyebarluaskan konten vulgar. Celakanya, konten vulgar itu sebagian besar justru "dinikmati" oleh kalangan remaja kita dengan sangat bebas & tanpa ada filter yang menyaringnya. Udah landasan ilmu agamanya tipis, mengapa gue bisa ngomong tipis? coba aja cek, berapa jam mata pelajaran Agama diajarkan di tiap sekolah tiap minggunya?. Ironisnya, dengan pengetahuan agama yang minim, remaja kita dicekoki tontonan vulgar tiap hari, jadinya ya seperti generasi sekarang ini. Cuma tau sekilas, "seks" sebagai sarana pemuas syahwat, tanpa memahami dampak besar yang harus diterimanya. Hamil diluar nikah, penyakit kelamin, sanksi sosial, dosa dan lainnya mungkin tak pernah terbayang di pikiran mereka. Ditambah lagi faktor jiwa muda yang masih labil & menggelora, membuat mereka menganggap seks makin "dianggap biasa ajah" atau wajar gitu aja, udah kayak kebutuhan sehari-hari gitu. Gue yakin kebanyakan remaja sekarang udah pada doyan nglakuin ML pas pacaran. "Lo udah pacaran berapa lama sama dia?sampe sekarang kalian belum ML juga?ahaa cupu lo!!". Itulah lontaran kalimat yang kerap memicu jiwa muda yang slalu gak mau terlihat cupu agar diakui di pergaulan.

Dan anehnya saat kultur seks yang dianggap udah gak tabu lagi bagi para remaja, justru dianggap tabu oleh para orangtua saat membicarakan anything about sex. Para orang tua masih enggan dan malu-malu untuk memberikan sex education untuk anak-anak remaja mereka. Perlu gue tegasin buat para orangtua yang punya anak remaja, sebaiknya kalian harus mulai aware dengan perilaku anak remaja kalian. Jangan mudah percaya dengan act out anak kalian yang seakan jadi "anak baik" dirumah, tapi ternyata "liar" diluar rumah. Posisikan kalian sebagai temen curhat yang enak bagi anak remaja kalian. Karna normalnya, anak remaja itu akan banyak bertanya saat menjumpai sesuatu yang baru baginya. Apalagi tentang pengalaman seksual. Pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan. Dan orangtua yang baik harusnya mulai slalu dengerin curhatan anaknya. Dengan begitu anak remaja tak akan pernah kehilangan arah.

"Mah, boleh gak aku ciuman sama cowok?rasanya gimana sih mah?ciuman bisa bikin hamil gak mah?, tanya remaja cewek pada mamanya

"Hmmm kamu ngomong apa'an sih dek, kamu tuh masih kecil, jangan nanyain aneh-aneh gitu ah! Mama gak suka adek nanyain itu," jawab Mamanya dengan nada risih. Ya, jawaban yg sama skali gak ngasih solusi untuk menjawab pertanyaan anak gadisnya.

Akibatnya jelas, remaja kita saat ini mencari jawaban kekepoannya mengenai segala sesuatu tentang "Seks" itu dengan independen. Langsung browsing di internet tanpa bimbingan dari orangtua mereka. Padahal seharusnya, orang tua adalah penuntun arah bagi mereka. Banyak sekali konten vulgar di internet yang tak sebaiknya dikonsumsi oleh anak-anak di bawah umur. Disaat inilah mereka memerlukan arahan, kita sbg orang tua tak seharusnya menutup diri. Tak perlu malu membahas masalah seks, yang penting kita tetap berikan batasan tertentu saat menjelaskannya, jangan terlalu vulgar juga. Karna disaat kita tak memberikan jawaban atas segala keingintahuannya yang teramat besar, maka yang terjadi adalah......bagaikan granat yang sudah dilepas pinnya, bbbbbboooooboooom, rusaklah moral remaja kita saat ini.

Mungkin, kalau disurvei, jumlah remaja perempuan yang masih perawan saat ini jumlahnya udah jauh berkurang jika dibandingin sama jaman gue masih sekolah dulu. Kalo di jaman gue dulu, pacaran pegangan tangan aja udah mimisan. Tapi remaja sekarang? Udah bukan sekedar pegang-pegangan tangan lagi, tapi udah berani praktekin mapel biologi bab sistem reproduksi manusia. Para remaja perempuan, mau gak mau, mereka kerap jadi korban "eksperimen" keingintahuan para remaja cowok yang sedang mencari jati diri juga. Karna memang hormon seksual di masa remaja memang mencapai puncaknya. Mesum+mesum=mesum kuadrat. Awalnya dipaksa, lama-lama ketagihan. Itulah faktanya.

Jadi apa tindakan yang bisa kita lakukan untuk menanggulangi fenomena remaja yang semakin "kehilangan arah" ini?. Mulai sekarang, marilah kita BERANI BICARA, marilah kita mulai memberikan pelajaran tentang Sex Education. Tak usah malu untuk menjawab pertanyaan dari generasi yang lebih muda dari kita. Sampaikan kebenaran sesuai dengan pengetahuan yang kita kuasai & sampaikan juga batasan norma-norma yang berlaku. Karna sesungguhnya, yang dibutuhkan para remaja kita saat ini itu adalah deskripsi atau gambaran yang jelas tentang apa itu Seks & segala akibatnya. Percayalah, dengan seiring berjalannya waktu, remaja kita kelak akan bisa kembali ke jalur yang benar jika kita mau meluangkan waktu, bicara empat mata dengan mereka.

Tuesday, May 3, 2016

Stop Jadi Pecundang



Siapapun pasti pernah mengalami fase down dalam hidupnya. Terutama ketika mengalami sebuah kegagalan yang berulang-ulang kali. Meskipun kegagalan adalah salah satu konsekuensi yang harus diterima saat mencoba sesuatu hal, akan tetapi kegagalan masih akan terasa sangat “nyesek” di hati. Apalagi melihat fakta yang terjadi di sekitarnya, ketika semua orang saling membicarakan tentang kehebatan, kesuksesan yang bisa mereka raih, di lain sisi ia masih berjuang entah ada hasilnya atau gak. For your information, ia disini refers to siapapun kalian yang merasa masih jadi pecundang.

Emang gak enak rasanya jadi pecundang. Keberadaannya gak pernah dianggep. Antara ada dan tiada. Kalau dianggap ada, tapi kenapa gak pernah ada seorangpun yang peduli padanya? Tapi kalo dianggep gak ada, tapi kenapa semua orang membullynya?. Dimanapun berada, seorang pecundang akan selalu dapetin perlakuan yang sama. Mungkin udah ada standar operasional (SOP) bagaimana cara memperlakukan seorang pecundang. Pecundang bukannya gak mau nglawan balik, tapi mereka sadar diri, mungkin terlalu lama terbiasa dalam posisi “mengalah”, jadi sense of fightback nya menjadi sangat lemah bahkan nyaris gak ada sama sekali.
                Fase hidup yang paling pahit memang disaat kita lelah untuk berbuat sesuatu, karna merasa tak ada gunanya, tak ada satupun yang mengapresiasi. Bagaimana bisa seorang yang mati-matian berusaha agar tercapai impiannya, harus berpura-pura everything is gonna be okay ketika ia mengalami kegagalan yang tak nampak ada ujungnya?. Pun juga disaat ia sudah dekat dengan impiannya, tapi tiba-tiba harus dijauhkan dari impian tersebut karna beberapa alasan yang kurang masuk akal sehat. Ya, stress jadinya. Tapi dengan terus-terusan ngedown juga gak baik juga guys. Kita akan selamanya jadi pecundang kalau kita tak berani berevolusi. Lebih baik kita berbuat sesuatu daripada berdiam saja, tanpa karya. Setidaknya dengan berani untuk mencoba, kita akan menjadi terbiasa dengan kegagalan dan bisa berdamai dengannya. Never stop trying, believing, & learning from the past. Seperti lirik lagunya Endank Soekamti (Coba Lagi). Daripada hanya rencana, cuma bisa jadi wacana. Kita takkan mengerti sampai coba sendiri. Apapun hasil nanti, coba lagi coba lagi. :)

Wednesday, July 1, 2015

Marhaban Ya Ramadhan


https://pbs.twimg.com/media/BrMa39fCYAESzO0.jpg

 Bulan suci Ramadhan, adalah bulan yang spesial bagi setiap muslim. Karena hanya di bulan inilah, iklan syrup dan biskuit di TV yang mulanya terlihat biasa saja, mendadak menjadi luar biasa pas kita lagi puasa. Di bulan Ramadhan ini juga, tidurnya seseorang itu dianggap ibadah, jadi alangkah baiknya mari kita tidur dari subuh sampai magribh. Eh bukan. Maksud gue, di bulan inilah kita bisa menumpuk banyak pahala setiap harinya, untuk membayar sebagian hutang dosa kita selama 11 bulan diluar Ramadhan. Admit it, pasti sebagian dari kita cuma rajin ke masjid di bulan Ramadhan doang kan? Terkecuali kalo profesi lo adalah jasa penukaran sendal butut menjadi branded alias lo adalah maling sendal profesional di masjid. Atau gak lo itu tukang jualan minyak penumbuh jenggot Pirdaus Jisus yang suka gelar lapak di emperan masjid. 

http://memegw.com
Masjid yang biasanya sepi jama’ah, mendadak menjadi ramai pas bulan Ramadhan. Terlebih lagi kalau menu takjilnya itu enak-enak, bisa dipastikan terjadi lonjakan jumlah pengunjung masjid secara signifikan menjelang waktu berbuka puasa. Dan sudah pasti sebagian dari mereka itu adalah anak kosan yang amat sangat tipis dompetnya, yang demi menjaga kelangsungan hidupnya, mereka rela ikut berdesakan dengan kaum fakir miskin & musafir untuk mencari buka puasa gratisan. Disinilah kadang gue merasa sedih, karna gue pernah ngrasain jadi mereka waktu gue masih jadi anak kos jaman kuliah dulu. Saat itu, tiap hari gue habiskan waktu ngabuburit gue di masjid besar di kampung arab, bukannya tanpa alasan, karna disanalah satu-satunya masjid yang menyediakan menu berbuka puasa dengan kategori mewah yaitu nasi box berisikan nasi+ayam goreng+segelas air mineral. Alhamdulillah waktu itu gue bisa bertahan hidup walaupun jarang sahur sekalipun, karna pasti gue balas dendam pas buka puasa. Udah kenyang, gratis pula? Nikmat mana lagi yang bisa gue dustakan? Hehe.

http://www.quickmeme.com
 Keramaian masjid masih terus berlanjut hingga menjelang ibadah sholat Tarawih. Banyak faktor yang melatarbelakangi setiap orang yang datang untuk sholat Tarawih, ada yang dateng tulus untuk khusyu’ beribadah, tapi banyak juga (terutama generasi muda) yang menjadikan kegiatan Tarawih ini sebagai ajang untuk nyari gebetan. Mentang-mentang udah buka puasa, para anak muda ini ingin menambahkan menu dessert ke dalam list menu berbuka puasa mereka. Astaghfirullah. Sadarlah wahai kawan!! Gue ngomong di depan cermin. Sekarang gue flashback ke jaman gue masih bocah dulu, gue masih inget bener, saat tarawih gini sang Khotib akan menjadi seleb dadakan yang dimintain tandatangan nya oleh anak-anak kecil untuk mengisi buku Pesantren Kilat Ramadhan yang diwajibkan sekolah gue dulu. Karna gue orangnya kreatif, gue gak pernah ikut ngantri minta tandatangan khotibnya, karna gue menandatangani sendiri buku gue itu. Dari situlah awal mulanya gue menyadari, kalau gue ini berbakat jadi seorang peniru tandatangan profesional. Tapi pas gue omongin bakat gue ini ke bokap, kepala gue malah kena jitak bokap. Pas udah gede gini akhirnya gue menyadari alasan kenapa bokap gue gak merestui bakat terpendam masa kecil gue itu, karna mungkin jika bakat gue diterusin, gue bakalan ditangkep KPK dengan tuduhan pemalsuan dokumen untuk korupsi. Naudzubillah.

Saat santap sahur, kita selalu ditemani berbagai acara komedi di berbagai stasiun TV. Begitu juga menjelang berbuka puasa. Tapi yang bikin gue heran adalah, kenapa artis-artis pengisi acaranya ya cuman itu-itu aja ya?. Bukannya apa-apa, gue malah kasian sama artis-artis itu, gak pernah bisa ngrasain makan sahur & berbuka puasa bareng keluarga dirumah. Saat sahur begini, satu hal yang jadi concern gue adalah jeda waktu antara Imsak dengan Adzan Sholat Subuh, karna gue nganggep waktu jeda itu bagaikan extra time di pertandingan sepakbola. Begitu terdengar suara Imsak...Imsak...Imsak dari toa masjid, gue langsung puasin hasrat makan minum gue sampai terdengar adzan subuh berkumandang. 

http://static.inilah.com/data/meme/petasan-super.jpg
Sehabis sholat subuh, gue masih inget pas jaman gue masih bocah, udah jadi tradisi pasti gue selalu nongkrong di alun-alun kota, buat mainin petasan atau mercon seperti anak-anak lainnya. Fyi, ada banyak banget varian dari petasan, mulai dari petasan rawit, korek hingga petasan Leo yang ledakannya bisa bikin ibu hamil miskram. Itu baru yang standart, belum yang custom alias petasan handmade yang sizenya bisa dibikin sesuka hati. Dulu, gue pernah bikin petasan handmade segede paha orang dewasa, dan sukses meledak, DUAAAAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRR, tapi sayangnya petasan itu meledak tepat di selangkangan gue, usut punya usut,ternyata pas gue nyalain tadi gue narohnya di medan yang agak miring, walhasil petasan itu gelinding kearah gue yang membelakanginya sambil nutup mata & kuping. Semenjak itu gue jadi trauma, gue bersumpah gak akan maenan petasan lagi. Kesimpulannya adalah, kemungkinan anak-anak selain gue, yang dulunya bisa survive saat main petasan, pas udah gede mereka jadi teroris yang jadi DPO polisi.
 Itulah sekelumit cerita yang bisa gue share tentang bulan Ramadhan, pastinya gue dan lo semua juga berharap bisa berjumpa lagi dengan bulan Ramadhan tahun depan. Amin. We will miss u Ramadhan!. Kalo lo punya cerita menarik lain tentang bulan Ramadhan, share aja di comment ya, thanks!

Sunday, June 7, 2015

Social Media : Aktif atau Pasif?

Adalah fakta bahwa manusia cenderung untuk gak pernah “puas” atas apa yang diraihnya. Padahal jika kita bisa bijak, memang gak akan pernah ada manusia yang sempurna, berbanding lurus dengan kehidupan yang gak akan pernah ada yang sempurna juga. Terlebih lagi saat ini kita hidup di era social media (sosmed) seperti saat ini, yang bisa dengan mudah menjadi trigger (pemicu) ketidakpernahpuasan manusia itu berasal. Why? Simpel aja, karna menurut gue sebenernya fungsi utama dari akun sosmed dari seseorang adalah sebagai media terbaik untuk “pamer”. Pamer dalam hal ini bisa beragam bentuknya. Ada yang pamer kekayaan (liburan, shopping, kuliner, gadget, mobil, dsb). Ada juga yang pamer momen terindah dengan orang tersayang (pacaran, tunangan, wedding). 

Ada 2 tipe manusia di dunia social media. Pertama, manusia yang “aktif” di sosmed, dan tipe kedua adalah manusia “pasif” di sosmed. Tipe “aktif” berarti seseorang yang dengan rajinnya mengunggah segala sesuatu yang terjadi di kehidupannya every single time ke dalam akun social media mereka. Tapi pernahkah kita yang “aktif” di social media, menyadari gimana perasaannya seandainya kita jadi seorang yang “pasif” di timeline itu?

Disaat tipe manusia “aktif” di sosmed dengan rajinnya mengupload kehidupan pribadinya, si “pasif” cuman bisa jadi “penonton setia”nya di timeline. Gue ilustrasikan misalkan si A adalah manusia “aktif” dan si B adalah manusia “pasif”. Si A ini tiap menit selalu muncul dalam timeline. Bahkan untuk hal yang dirasa gak perlu, misal di suatu sore hari yang lagi hujan gerimis romantis, si A mengupdate status sosmednya kaya’ gini : lagi pup at Jamban with Darling. Maka si B Cuma bisa membayangkan dari kejauhan ; “Ya ampun, gimana ya rasanya bisa pup bareng pacar di Jamban? Pasti romantis banget bisa maen adu panjang-panjangan tai, bisa saling cebokin juga” gumam si B. Dan akhirnya si B yang notabene adalah seorang jomblo akut secara gak sadar memberi tanda love ke moment yang dia rasa “indah” itu. 

Kesedihan si B gak berhenti disitu aja, si B adalah anak muda pengangguran yang menderita jomblo kronis, selalu dibuat iri saat melihat timeline dari temen-temennya yang selalu pamerin kehidupan mereka yang sepertinya selalu terlihat “menyenangkan” di sosmed. Disaat timeline nya berisikan update temen-temennya yang bilang lagi kerja, bilangnya lagi gajian, sebagai pribadi yang rapuh tentu aja hati si B ini pastilah iri. Belum lagi di timeline nya berisikan postingan mobil/rumah/gadget/harta benda apapun yang membuat seorang pengangguran seperti si B ini menjadi down mentalnya. Begitu juga saat timelinenya rame postingan acara wedding dari temen-temen seangkatan yang udah pada nikah, sakitnya itu di seluruh badan. Ya, di umur setua itu si B masih belom nikah, harus dipaksa melihat kenyataan di timeline sosmednya yang isinya semua temen-temennya yang sebenernya niatnya baik (ibadah) tapi dimata si B jadi terlihat beda, si B nganggepnya seakan mereka semua memamerkan the power of married.

Kena’asan si B masih terus berlanjut, dengan adanya postingan yang berisikan foto buah hati yang lucu & menggemaskan dari temen-temen seangkatannya yang udah pada nikah tadi, si B hanya bisa tersenyum sedih, mencoba tegar tapi tetep aja menusuk hati. Sepertinya semua orang berbahagia dengan kehidupan mereka masing-masing, tapi si B cuma bisa  merenung meratapi nasibnya yang masih gini-gini aja saat scrolling timeline sosmed nya. Karena udah terbiasa dengan segala macam “kekalahan” itu, hati si B seakan udah kebal, atas apa yang terjadi menimpanya. Makanya si B memilih untuk menarik diri dari dunia sosmed yang menyiksa batinnya. Si B memilih untuk menjadi silent reader alias menjadi tipe yang “pasif” di sosmed. 

Anyway, itulah sekelumit argumen gue tentang 2 tipe manusia di sosmed saat ini. Semoga bagi kalian yang pernah ngrasain jadi tipe “aktif” ataupun “pasif” di sosmed, bisa saling menjaga toleransi. Jangan sampai kalian saling melukai hati. Karna percayalah hidup itu ibarat roda yang berputar, kadang diatas, bisa juga kadang dibawah. Dan malah terkadang ban roda kita itu bergerak oleng karena bannya bocor, mau ke tambal ban udah tutup. Ya, itulah kehidupan, manis asam asin ramai rasanya, tapi yang jelas, bijaklah kalian dalam bersosmed di dunia maya.Buat kalian yang punya uneg-uneg, tulis aja di comment ya. Thanks

Thursday, April 2, 2015

Olga Syahputra, Dunia Komedi Indonesia Berduka.


(source: kapanlagi.com)

Dunia hiburan tanah air kembali kehilangan salah satu sosok artis multitalent nya, setelah kepergian almarhum Olga Syahputra. Jujur, gue adalah salah satu fans dari Olga. Bahkan sejak dia baru merintis karirnya di TV, lebih tepatnya saat dia jadi figuran saat segmen Diana Dalam Berita di acara Ceriwis Trans TV. Gue inget bener, saat itu gue masih kelas 1 SMA, sepulang sekolah gue selalu ditemenin Olga, makan siang gue kurang lengkap tanpanya. Kepolosan, kebodohannya saat membawakan segmen Diana Dalam Berita itulah yang sukses bikin gue ngakak sampe rahang gue sakit. 

Perlahan tapi pasti, Olga mulai menjajah semua stasiun tv. Tiap kali gue ganti channel tv, pasti slalu ada mukanya Olga. Wajar saja, dunia komedi di Indonesia memang kehilangan gregetnya selama ini. Jarang sekali ada seorang komedian yang bisa "jadi" bila dipasangkan dengan siapapun. Olga adalah buktinya. Dia slalu sukses diduetkan dengan komedian siapapun itu. Padahal sangatlah sulit buat bikin chemistry saat beradu canda dengan lawan main, terlebih lagi bukanlah teman satu grup. Olga bisa mematahkan teori itu. Dia adalah komedian "independen" artinya dia bukanlah dari sebuah grup, tapi selalu bisa langsung klik bila dipasangkan dengan siapapun. Komeng, adul, opie kumis, deny & wendi cagur, dan masih banyak komedian tanah air yang pernah merasakan duet ngelawak bareng Olga di berbagai acara komedi di tv nasional. Dan bisa ditebak, Olga menjadi salah satu artis papan atas Indonesia, stasiun tv nasional rela merogoh kocek yang dalam untuk mendapatkan tanda tangan Olga di sebuah program acara tv.

Lawakan Olga memang sangat "menusuk", tapi itulah dia, selalu eksis dengan gaya bicaranya yang nyablak ceplas ceplos plus gimmick kemayunya. Trademark itulah yang sukses mengantarkannya ke dalam prime time tv show. Banyak sekali acara yang sukses dengan rating tinggi berkat kehadiran Olga. Tapi bak pisau bermata dua, entah berapa kali juga Olga dapetin teguran dari KPI. Memang benar banyak orang yang terkadang sakit hati dengan lawakan Olga yang melabrak norma etis masyarakat Indonesia. Tapi harusnya masyarakat kita itu juga harus dewasa menyikapinya, bahwa semua itu terjadi di ranah dunia komedi, harusnya bisa memaklumi atas semua yang terjadi dalam sebuah show di tv. 

Sisi lain dari Olga yang gue kagumi adalah sifat kedermawanannya yang sangat tinggi. Wajar, seperti yang kita tahu, Olga berangkat dari background keluarga yang "kurang berada". Maka tak heran, saat dia mencapai puncak kesuksesan, Olga menjadi sangat loyal apalagi untuk mereka yang benar-benar membutuhkan. Namun sayang, gelimang harta itu menjadi hambar, ketika Olga divonis dokter menderita Meningitis, dan harus rela untuk dirawat intensif di Mounth Elizabet Hospital, Singapura. Kurang lebih setahun dia dirawat, sampai akhirnya dia harus meninggalkan kita semua untuk selamanya untuk menghadap sang khalik, Allah SWT. Selamat jalan Olga, makasih banget udah nemenin hari-hari gue dengan guyonanmu yang konyol itu, semoga kau tenang disana. Amin

Tuesday, January 6, 2015

Rest In Peace, acara bermutu di stasiun TV Indonesia



Menurut gue, nonton TV adalah kegiatan yg wajib dilakukan setiap orang di dunia ini. Bisa sambil tiduran, sambil makan, ataupun sambil pup. Tapi apa jadinya ketika tayangan yang kita tonton di TV kita saat ini isinya gak bermutu semua? Itulah fakta yang gue lihat akhir-akhir ini. Ini TV apa tempat sampah?
(source: http://optimisman.com/wp-content/uploads/2014/09/people-watching-tv.jpg)
 Mengawali hari di pagi hari, apa menu sarapan kita? Ya, tayangan gossip murahan artis Indonesia. Sambil menyantap nasi goreng telur mata sapi (menu sarapan standartnya orang Indonesia), gue masih bingung, apa yang bisa gue nikmati dari berita pisah ranjangnya Nasar dengan Musdalifa? Atau juga berita tentang kedekatan Saipul jamil dengan banyak cewek? Belum lagi berita tentang tingkah laku absurdnya Syahrini di jejaring sosial. Gue pernah liat tayangan tentang joget maju mundur cantiknya, lalu ada kabar miring tentang foto Syahrini lagi disembah?duh, kok gue malah care seperti emak-emak pemirsa setia acara gossip yah?. Tentu saja, berita gak mutu dari selebritis tanah air itu memberikan efek yang bagi buruk bagi anak-anak kita. Bayangin aja gimana psikologis anak-anak kita nantinya kalau disuguhi berita aneh dari banyak artis-artis gak jelas itu. Mungkin saat ini permainan yang ngetrend di kalangan anak-anak SD adalah pura-pura main nikah-nikahan lalu pura-pura selingkuh-selingkuhan lalu pura-pura cerai-ceraian.
Agak siangan dikit, skitar jam 8-10, giliran acara musik-musikan yang gak jelas konsep acaranya itupun tayang. Acara musik itu rata2 dipandu oleh host keroyokan yang jumlahnya 3/4/5 (lebih dari 2 orang). Mungkin stasiun TVnya kejar setoran buat nge gaji host2 keroyokan itu. Alhasil, tayangan yang berlabel acara “MUSIK” itu hanyalah sekedar acara hura-hura joget-joget gak jelas, kadang juga mengekspos privasi kehidupan pribadi dari hostnya, yang mnurut gue, acara itu mendepak jauh kepuasan para pecinta musik sejati di Indonesia. Katanya acara musik? Kok gak pernah nayangin video klip dari penyanyi / band secara full utuh gak kepotong? Kok hampir gak pernah juga si artisnya tampil secara live (gak lypsinc)? Kok penonton nya juga gak ada yang gak bayaran?
Tiba saatnya jam istirahat kantor (lunch time). Muncullah acara-acara yg (lagi-lagi) mnurut gue pribadi adalah acara yg gak banget untuk ditonton, lagi-lagi tentang berita gossip setingan gak jelas dari para selebriti tanah air. Setajam, Silit. Bahkan pernah pula ada stasiun TV yang nayangin resepsi pernikahan dari artis secara live, seminggu penuh non stop 24 jam. Lalu gak lama kemudian ada siaran langsung prosesi persalinan dari artis yang bininya bunting udah waktunya melahirkan. Pentingnya apa coba? Mungkin next time bakalan ada siaran langsung pemakaman artis yang meninggal karena overdosis obat batuk?. Ada juga acara TV yang bener-bener nunjukkin betapa gak kreatifnya industri pertelevisian Indonesia saat ini, yaitu acara yg membahas fenomena tertentu, misalnya 10 fakta tentang upil, yang dibikin peringkat (biasanya 1-10), yang keseluruhan rangkaian video yang ditayangin cuma rangkaian hasil donwnload dari youtube.
Sore menjelang malam, TV kita kembali menyuguhkan acara yang kurang bermutu. Lihat aja sinetron jaman sekarang? Slalu menggambarkan anak SMA yang hidupnya foya-foya, nge Gank, slalu balas dendam, membully yang lemah. Saat nonton itu, Gue pribadi merindukan sosok bang Doel, dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Gue juga merindukan sinetron "Keluarga Cemara". Sinetron jaman sekarang, kalo anak SMA nya itu masih manusia sih wajar, tapi sekarang? mulai marak sinetron yang settingannya tetep dunia percintaan remaja ababil masa kini, tapi disitu digambarin punya kekuatan super lah, kekuatan siluman lah, vampir lah, yang biasanya ceritanya cuma copy paste dari film-film Holywood trus dijiplak dalam low budget version atau versi kampungannya. Anehnya setiap ada salah satu sinetron yang lagi beken, stasiun tv yang lain pun ngikutin buat sinetron dengan genre yang sama (seakan gak mau kalah). TV A punya serial Ganteng Ganteng Singa, trus TV B gak mau kalah bikin Sinetron Manusia Macan Tutul. Nampaknya semua spesies binatang di kebun binatang akan dapet peran di sinetron-sinetron Indonesia nantinya.
Kisah lain datang dari Si tukang Cilok Haji, Emak pengen ke Mekah, ya, dari judulnya sih terdengar islami banget, tapi kenyataannya? Cuma skedar cerita gak mutu kejar tayang yang merampas kualitas karya produksi demi ngejar rating. Bahkan udah menyentuh episode ke 1.000. Waw banget kan?mana ada serial TV di dunia ini yang bisa mencapai ribuan episode?. Mungkin di kehidupan nyata, tokoh-tokoh dari episode terbaru dari Tukang Cilok naik haji adalah generasi ke 5 dari engkong leluhurnya yg dulu dicritain bisa naik haji. Cucu dari cucunya sang leluhur. Tragisnya generasi ke 5 nya sekarang ini, berhenti jualan cilok karna ketangkep satpol PP, lalu jatuh miskin, bunuh diri gantung diri di atas pohon cabe.
Begitu frustasinya dengan acara-acara tivi yang gak jelas, finally, gue sekarang berlangganan TV Kabel. TV berbayar, yang kualitas acaranya sudah pasti terjamin mutunya, banyak pilihannya (lebih variatif) & yang terpenting ada channel yg dibikin khusus untuk anak-anak. Jadi keponakan gue yang masih balita masa tumbuh kembangnya gak terancam oleh sinetron-sinetron gak jelas. Demikian yang bisa gue share tentang kegalauan gue mengenai acara-acara TV yang lagi tayang saat ini. Kalo lo punya uneg-uneg lain mengenai kasus yang sama, silahkan komentar di bawah. Thanks!